meme sebagai hieroglif modern

cara bahasa visual menggantikan kata-kata dalam komunikasi massa

meme sebagai hieroglif modern
I

Coba ingat-ingat lagi, kapan terakhir kali kita membalas pesan panjang lebar dari seorang sahabat bukan dengan rentetan kalimat empati, melainkan dengan sebuah gambar kucing yang sedang menatap kosong ke arah tembok? Kita tidak perlu mengetik "saya sangat lelah, kewalahan dengan hidup ini, dan rasanya ingin menyerah." Gambar kucing itu sudah mewakili segalanya. Teman kita membalas dengan gambar anjing yang menepuk punggung kucing tersebut. Percakapan selesai. Emosi tersampaikan dengan sempurna tanpa satu huruf pun diketik. Pernahkah kita berhenti sejenak dan berpikir, bagaimana bisa sebuah lelucon visual absurd di internet kini bermutasi menjadi bahasa utama kita sehari-hari?

II

Dulu, umat manusia sangat mengagungkan kata-kata tertulis. Kita menulis surat berlembar-lembar. Kita menyusun paragraf yang panjang dan rapi untuk mengekspresikan kesedihan, kegembiraan, atau sarkasme. Namun sekarang, di tengah laju informasi yang gila-gilaan, teks murni sering kali terasa terlalu kaku dan lambat. Teks tidak punya nada bicara. Saat kita mengetik "haha", apakah kita benar-benar tertawa, atau sekadar bersikap sopan agar tidak canggung? Di sinilah meme masuk sebagai penyelamat. Sebuah meme memberi kita konteks, nada suara, ironi, dan ekspresi mikro sekaligus dalam satu kali lihat. Kita mulai bergeser menggunakan gambar bukan karena kita malas membaca. Kita menggunakannya karena emosi manusia terlalu rumit dan berlapis-lapis untuk sekadar diwadahi oleh 26 huruf alfabet yang disusun datar di layar ponsel. Tapi, pertanyaannya, apakah pergeseran dari teks kembali ke gambar ini adalah sebuah kemunduran peradaban?

III

Jika kita melihat pola komunikasi ini dari kacamata sejarah, rasanya ada sesuatu yang sangat familier. Mari kita sama-sama mundur sekitar lima ribu tahun ke belakang. Di bawah terik matahari lembah Sungai Nil, manusia berkomunikasi menggunakan simbol burung hantu, mata, dan gelombang air. Ya, kita sedang membicarakan hieroglif Mesir kuno. Dulu para sejarawan butuh waktu bertahun-tahun untuk memecahkan sandi bahasa visual tersebut. Lalu bayangkan sejarawan di tahun 5000 nanti. Mereka menggali server internet kita dan menemukan gambar anjing Shiba Inu dengan teks warna-warni berbunyi much wow. Mereka mungkin akan kebingungan setengah mati mencari tahu apa konteks religius di balik anjing tersebut. Apakah kita sebenarnya sedang mengulang sejarah? Mengapa otak kita perlahan mulai meninggalkan bahasa tulisan yang sudah sangat terstruktur, dan kembali pada coretan-coretan visual yang sarat akan makna tersembunyi? Jawabannya ternyata tidak ada hubungannya dengan kemalasan, melainkan bersembunyi di balik mesin canggih di dalam tengkorak kita sendiri.

IV

Mari kita bedah misteri ini dengan sains. Dalam ilmu neurosains dan psikologi kognitif, ada sebuah fenomena yang disebut Picture Superiority Effect (efek keunggulan gambar). Otak manusia pada dasarnya adalah mesin pemroses visual yang sangat buas. Kita membutuhkan waktu berdetik-detik untuk membaca dan memproses makna sebuah kalimat, tapi korteks visual kita hanya butuh 13 milidetik untuk mengenali dan memahami sebuah gambar. Saat kita melihat meme, amigdala di otak kita—pusat pemrosesan emosi—langsung menyala dan merespons sebelum bagian otak logis kita sempat mengeja kata-katanya.

Lebih dari itu, istilah meme sendiri punya sejarah ilmiah yang serius. Kata ini pertama kali dicetuskan oleh ahli biologi evolusioner Richard Dawkins pada tahun 1976 dalam bukunya The Selfish Gene. Dawkins menggunakan kata ini untuk mendeskripsikan gen budaya. Sama seperti DNA biologi yang bereplikasi, bermutasi, dan beradaptasi agar bisa bertahan hidup dari generasi ke generasi, meme adalah unit budaya yang menyebar dari satu kepala ke kepala lain. Hieroglif masa lalu diciptakan oleh kaum elit untuk mencatat sejarah para raja dan dewa. Sebaliknya, hieroglif modern kita diciptakan secara anonim oleh rakyat biasa untuk bertahan dari kerasnya realitas. Meme adalah cara otak kolektif umat manusia memadatkan trauma, stres kerja, ketimpangan ekonomi, dan kecemasan eksistensial menjadi sebuah pil visual berlapis komedi yang mudah ditelan dan dibagikan.

V

Jadi, teman-teman, mari kita singkirkan rasa bersalah saat kita merasa terlalu sering berkomunikasi menggunakan stiker, GIF, atau meme shitposting yang absurd. Kita tidak sedang menjadi generasi yang mengalami kemunduran intelektual atau miskin kosakata. Sebaliknya, kita sedang beradaptasi secara evolusioner. Kita sedang menciptakan sebuah bahasa universal yang baru, yang mampu melampaui batasan negara, budaya, dan tata bahasa yang kaku. Saat dunia terasa terlalu berat, terlalu cepat, dan terlalu rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata, kita bersandar pada bahasa visual untuk saling mengingatkan bahwa kita tidak sendirian merasa kacau. Di balik gambar kucing yang menangis itu, ada empati yang sangat hangat dan manusiawi. Pada akhirnya, manusia dari zaman batu hingga zaman kecerdasan buatan punya satu kebutuhan dasar kognitif yang sama persis: keinginan untuk terhubung dan dipahami. Dan terkadang, sebuah gambar konyol di internet melakukan tugas mulia itu jauh lebih cepat dan lebih baik daripada ribuan kata.